menarasikan kopi…

Sejarah mencatat bahwa penemuan kopi sebagai minuman berkhasiat dan berenergi pertama kali ditemukan oleh bangsa Ethiopia di benua Afrika sekitar 3000 tahun (1000 SM) yang lalu (wikipedia).

Tanaman kopi berasal dari hutan dataran tinggi Ethiopia. Tanaman pertama ditemukan tumbuh liar di daerah Kaffa, asal mula nama kopi berasal.

Kata “coffee” resmi menjadi bahasa Inggris pada 1598 yang berasal dari bahasa Belanda, “koffie”. Sedangkan, “koffie” dipinjam dari bahasa Turki “kahve” yang berasal dari bahasa Arab “qahwa”.

Bukti menunjukkan kopi tidak dinikmati sebagai minuman hingga sekitar abad ke-10. Dokumen tertua yang menulis tentang minuman kopi juga berasal dari abad ini. Dua filsuf Arab, Muhammad bin Zakariya al-Razi (850-922) dan Ibnu Sina dari Bukham (980-1037) menyebutkan minuman “bunchum” yang diyakini sebagai kopi.

 coffee2

Budaya ‘warung kopi’ ataupun ‘kafe’ diperkenalkan oleh kaum muslimin. Kedai kopi pertama didirikan di Konstantinopel pada 1475. Kedai itu dikenal dengan Kaveh Kanes. Kedai kopi menjadi ajang berkumpul di mana Muslim bisa bersosialisasi dan mendiskusikan masalah-masalah agama.

coffee3

Sedangkan kedai kopi pertama di Eropa dibuka di Venesia pada 1645 setelah kopi masuk ke Eropa melalui hubungan dagang dengan Afrika Utara dan Mesir.

Viennese Coffehouse yang juga masuk dalam daftar ‘warisan dunia tak benda’ oleh UNESCO. Kebudayaan kafe ala Austria ini dideskripsikan sebagai,

“where time and space are consumed, but only the coffee is found on the bill.”

“Sebuah tempat di mana ruang & waktu dikonsumsi, tapi hanya kopi yang dicantumkan dalam nota tagihan.”

Meja marmer, air putih, & koran adalah pelengkapnya. Dengan kue manis khas seperti Apfelstrudel atau Sachertorte, tart cokelat yang diisi selai aprikot sesekali menemani, gaya hidup berkopi ini mendunia.

coffeehouse

Kini ketika ‘budaya warung kopi’ ataupun ‘kafe’ menjadi identik dengan buang waktu & bincang kesia-siaan bahkan dosa; penting juga kita mengembalikan kopi kepada ashalah nilainya ketika dibawa dari Dataran Tinggi Etiophia ke kota Mukha’ di Yaman oleh muslimin permulaan abad ke-8. Kopi, sejak itu adalah sahabat ahli ibadah dan ahli ilmu. Ia menegakkan punggung para ‘abid agar kuat berlama qiyamullail. Ia pula menyangga mata para ‘ulama serta pelajar untuk mendaras kitab & berdiskusi.

Ah!, semangat inilah yang hilang…

Akhirnya, mengutip Mas Pepeng, barista KlinikKopi & roaster yang amat disegani,

“Kopi tanpa narasi hanyalah air berwarna hitam”. Narasikan kopimu!

Komentar

    Be First to Comment

    Tinggalkan Balasan

    Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *